Mahad Al 'Ilmi Yogyakarta

Binasa Karena Kesyirikan

Di dalam kamus bahasa besar bahasa Indonesia, kata binasa mempunyai arti rusak sama sekali, hancur lebur, atau musnah. Itulah yang akan terjadi bila melakukan kesyirikan. Sangat benar jika syirik dapat membawa kebinasaan. Dan setiap orang tentu tidak ingin dirinya binasa.

Makna Syirik

Syirik adalah membuat tandingan atau sekutu bagi Allah, menyamakan Allah dengan selain Allah dalam perkara-perkara yang merupakan kekhususan bagi Allah. Dan syirik merupakan sebuah kezhaliman yang sangat besar kepada Allah dan akan mendapat murka Allah.

Secara sempit, syirik bermakna mempersembahkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah. Dan ibadah adalah hak Allah, hakikat penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56).

 Maka sudah seharusnya kita manusia beribadah hanya kepada Allah semata, kita berdoa agar keinginan kita dikabulkan, maka itu hanyalah Allah yang bisa. Seperti perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi, “Ibadah tidak disebut ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid, seperti shalat tidak disebut shalat kecuali disertai dengan adanya thaharah” (lihat Al Qowa’idul Arba’). Maka ibadah harus disertai dengan tauhid yaitu menujukan semua ibadah kepada Allah.

Macam Syirik

Syirik terbagi dua yaitu, syirik akbar (besar) dan syirik ashgar (kecil).

Syirik akbar adalah segala perbuatan yang jika dilakukan menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Syirik asghar adalah setiap amal perbuatan atau perkataan yang di dalam syariat disebut syirik akan tetapi pelakunya tidak keluar dari Islam.

Diantara bahaya syirik akbar adalah membuat pelakunya keluar dari Islam, pelakunya kekal di neraka, menghapus seluruh amal, dan membuat darah dan hartanya menjadi halal. Sungguh binasa orang yang melakukan perbuatan syirik yang tidak bertaubat sebelum matinya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah tingkatan syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa’ : 48)

 Dan bentuk syirik akbar adalah beribadah selain Allah seperti menjadikan sembelihan kepada selain Allah, bernadzar kepada selain Allah, isti’anah[1], istighatsah[2], dan isti’adzah[3] kepada selain Allah (dalam perkara yang tidak mampu dilakukan oleh makhluk-ed), dan berdoa pada kubur atau orang yang sudah mati,

Contoh perbuatan yang termasuk ke dalam syirik ashgar adalah riya’, menggunakan jimat, tathoyur[4] , dan bersumpah dengan nama selain Allah. Dan perbuatan syirik ashgar juga bisa menjadi syirik akbar, seperti mempercayai jimat yang dipakainya mampu dengan sendirinya untuk mendatangkan segala manfaat ataupun menolak segala bahaya. Dan penjelasan tentang hal ini butuh perincian lagi.

Doa itu adalah ibadah, tentunya doa harus ditujukan hanya kepada Allah semata. Dan doa secara bahasa berarti meminta. Bagaimana bisa seseorang meminta sesuatu kepada zat yang tidak bisa mengabulkan permintaan yang merupakan kekhususan Allah? Maka kita yakini doa itu hanya ditujukan kepada Allah, dan orang yang berdoa kepada selain Allah maka ia telah terjerumus ke dalam kesyirikan yang akan membawanya dalam kebinasaan.

Takut akan Berbuat Syirik

Semua nabi dan rasul yang diutus, Allah perintahkan untuk mendakwahkan tauhid. Setiap orang yang mempunyai tauhid dengan benar, tentunya ia akan takut terhadap syirik. Seperti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam takut terhadap syirik yang disebutkan dalam Al Qur’an,

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

Jauhkanlah aku beserta anak cucukku daripada menyembah berhala-berhala.” (QS. Ibrahim : 35).

 Apabila seorang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam saja takut terhadap syirik, maka apalagi kita sebagai manusia biasa?

 Kesyirikan merupakan dosa yang sangat besar dan Allah mengancam dengan neraka jahanam. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam neraka Jahannam dan kekal di dalamnya, mereka itulah sejelek-jelek ciptaan.” (QS. Al Bayyinah : 6).

Sudah seharusnya kita selalu menjaga tauhid kita agar menumbuhkan rasa takut kepada syirik.

Diantara buah dari takut akan berbuat syirik adalah ia akan selalu berusaha mempelajari bahaya kesyirikan dengan tujuan agar tidak terjerumus di dalamnya, tentu saja ia akan senantiasa belajar tauhid hingga kematian datang. Dan orang yang takut kepada kesyirikan, ia akan selalu beristiqamah di atas jalan Allah.

Melakukan kesyirikan merupakan sebab tidak dapat merasakan surga di akherat kelak, karena Allah mengharamkan surga bagi pelakunya, Allah berfirman,

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Barangsiapa yang mensekutukan Allah, pasti Allah haramkan atasnya untuk masuk surga. Dan tempatnya adalah di neraka. Dan tidak ada bagi orang yang dhalim ini seorang penolongpun.” (QS. Al Ma’idah: 72).

 Setiap orang pasti mengharap surga kan?

Kesyirikan Masa Sekarang

Banyak sekali kesyirikan yang dilakukan, seperti berdoa pada wali yang sudah mati, mereka bersikap berlebihan kepadanya, memberikan sesajen pada kubur, pohon atau tempat yang mereka keramatkan agar keinginannya terkabul, datang kepada ahli sihir atau dukun agar cepat kaya, mendapat jodoh, dan lain-lain. Juga dengan mendatangi tempat-tempat yang mereka percayai dapat memberikan kekayaan dengan syarat tertentu seperti menjadikan sesembelihan atau tumbal, memberikan sedekah laut atau yang lain agar hasil tangkapan ikan dan panen melimpah. Dan semakin lama bentuk kesyirikan semakin bermacam-macam.

Kesyirikan masa sekarang lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi pada masa dahulu. Pada masa dahulu mereka menyembah kepada selain Allah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dan meminta syafa’at. Akan tetapi kesyirikan masa sekarang, mereka berkeyakinan sesembahan yang mereka sembahlah yang akan mengabulkan permintaan mereka. Pada masa dahulu sesembahan mereka adalah nabi, malaikat, orang sholeh (orang yang mulia lagi dekat di sisi Allah-ed), namun pada masa sekarang sesembahan mereka juga kepada orang ahli maksiat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membedakan sesembahan mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ

“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik Allah semuanya”. (QS. Al Baqarah : 193).

Bentuk kesyirikan masa sekarang kesyirikan seperti menjadi adat kebudayaan, mereka mengatakan bila tidak melakukan ini berarti tidak menghormati leluhur atau nenek moyang mereka. Sungguh sangat keliru! Mereka demi menjunjung adat, mereka melakukan perbuatan yang menimbulkan murka Allah!

Penutup

Kita harus sangat berhati-hati dan takut kepada kesyirikan, selalu mempelajari tauhid dengan benar, dan janganlah merasa cukup dengan ilmu tauhid yang ada pada kita sekarang. Dengan tauhid yang benar kita bisa membedakan perbuatan yang mengandung kesyirikan, apalagi banyak kesyirikan terselubung yang kita tidak tahu yang di dalam ibadah, perbuatan atau perkataan.

Kesyirikan menjerumuskan ke dalam jurang kebinasaan yang akan membuat penyesalan yang sangat. Maka kita wajib melindungi diri dan keluarga kita dari bahaya syirik. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita agar terhindar dari kesyirikan,

اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك و أنا أعلم وأستغفرك لما لا أعلم

“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu padahal aku mengetahui bahwa itu syirik. Dan ampunilah aku terhadap dosa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)

 Semoga Allah selalu melindungi kita dari kesyirikan.

Wallahu a’lam

 

 [1] Isti’anah ; Meminta pertolongan untuk suatu urusan

[2] Istighatsah ; Meminta agar dihilangkan musibah yang menimpa

[3] Isti’adzah ; Meminta agar tidak ditimpakan musibah atau bencana

[4] Tathoyur ; Beranggapan sial pada sesuatu

Referensi

Penjelasan Kitab Qowa’idul Arba’ Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah.

Penjelasan Kitab Tsalatsatul Ushul Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah.

Penjelasan Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At-Tamimi rahimahullah.

 

Ditulis oleh :

Descartes Houston

Santri Ma’had Al ‘Ilmi tahun ajaran 1434/1435

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *