Mahad Al 'Ilmi Yogyakarta

Persiapan Menuju Hari Raya ‘Iedul Fithri

بسم الله. الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله

Segala puji hanya bagi Allah yang telah menganugerahi kita nikmat iman sehingga kita dapat senantiasa berada di atas jalan yang haqq ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan yang telah menghabiskan hidupnya untuk apa yang ada di sisi Rabb-Nya.

Beberapa hari lagi kaum muslimin di seluruh penjuru dunia akan menyambut hari raya mereka, yakni iedul fithri. Sebagaimana biasanya, kaum muslimin akan menumpahkan kebahagiaan-nya setelah satu bulan menunaikan puasa, salah satu ibadah teragung ummat ini. ‘Lebaran’, begitulah istilahnya, menjadi momen yang dinantikan setiap orang, segala usia, dan segala kalangan. Mudik, berkumpul dengan keluarga, bercengkerama dengan sanak saudara, menjadi alasan mengapa idul fithri benar-benar dinanti kedatangannya.

Demikianlah Allah telah menjadikan idul fithri sebagai rahmat bagi ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadikannya satu diantara dua hari raya ummat ini, dan menjadikan hati-hati kaum muslimin bergembira dengan kedatangannya.

Dan Allah telah memilihkan idul fithri sebagai satu hari raya yang menggantikan berbagai perayaan-perayaan jahiliyah,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى، وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Sesungguhnya Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik : Idul Adha dan Idul Fithri” (HR. Abu Dawud, An Nasaa-i, Ahmad)

 

Maka pilihan manakah yang lebih baik dari pilihan Allah? Cukuplah muslimin dengan dua perayaan ini (idul fithri dan idul adha) dan tidak tersibukkan ‘membuat-buat’ hari raya lain yang tidak dicontohkan oleh syariat ini.

Di sisi lain, sebagaimana ibadah-ibadah lainnya, syariat ini juga sudah mengatur tata cara pelaksaan iedul fithri dan batasan-batasannya serta membahas berbagai hal yang menyangkut ibadah ini. Sehingga setiap muslim wajib melaksanakan dan merayakan iedul fithri dan ibadah-ibadah lainnya sesuai dengan koridor yang sudah ditetapkan syariat, serta meneladani praktek Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Dengan begitu, kita dapat merayakan hari raya sekaligus mendulang pahala,

Lantas bekal apakah yang perlu kita siapkan untuk menyambut hari yang mulia ini? Amalan apa sajakah yang dapat kita lakukan?

Makna ‘iedul Fithri

‘iedul Fithri berasal dari kata ‘ied dan fithri. Ied adalah waktu yang berisi kegembiraan atau kesedihan yang senantiasa berulang setiap tahunnya (lihat Lisanul ‘Arob). Disebut juga ‘Ied karena pada hari itu Allah memberikan berbagai macam kebaikan kepada kita sebagai hamba-Nya. Diantara kebaikan itu adalah berbuka setelah adanya larangan makan dan minum selama bulan suci Ramadhan dan kebaikan berupa diperintahkannya mengeluarkan zakat fitrah. Sedangkan makna fithri adalah “berbuka” atau tidak berpuasa lagi.

Kesimpulannya, ‘iedul fithri adalah hari raya yang dimeriahkan sedangkan manusia tidak lagi berpuasa pada hari tersebut. Sehingga salah kaprah bila sebagian orang mengatakan bahwa ‘iedul fithri bermakna “kembali ke suci”.

Shalat ‘iedul fithri

Shalat ‘iedul fithri hukumnya fardhu ‘ain; yakni wajib bagi setiap muslim maupun muslimah. Hal ini didasarkan bahwa dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kaum wanita keluar (ke tanah lapang) walaupun sedang haidh guna menyaksikan barakahnya hari ‘Ied dan do’a kaum mukminin. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para wanita haidh untuk keluar (ke tanah lapang) -padahal mereka tidak shalat-, apalagi bagi para wanita yang sedang dalam keadaan suci? Apalagi bagi laki-laki?

Waktu pelaksanaan shalat ied adalah seperti shalat dhuha, yaitu setelah matahari naik seukuran satu tombak sampai dengan waktu zawal (tergelicir matahari ke arah barat). Karena Rasulullah shallaallahu‘alaihi wa sallam dan para shahabat selalu shalat setelah naiknya matahari, selain itu karena waktu sebelum matahari naik adalah waktu yang terlarang untuk shalat.

Sedangkan shalat ini dilaksanakan secara berjamaah di lapangan (musholla). berdasarkan hadits Abu Sa‘īd,

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ إِلَى المُصَلَّى

Nabi keluar di ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju lapangan tempat shalat” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Diantara hikmah pemilihan tempat ini adalah untuk semakin menampakkan syiar Islam. Dan diperbolehkan shalat di masjid jami’ jika ada udzur, seperti hujan, angin besar atau yang semisalnya.

Tata cara pelaksanaan shalat iedul fithri

Dalam pelaksanaannya, shalat ini berjumlah dua rakaat dan tidak diawali dengan adzan maupun iqomah. Pada rakaat pertama terdapat tujuh takbir tambahan setelah takbiratul ikram, sedangkan pada rakaat kedua terdapat lima takbir tambahan setelah takbir perpindahan rakaat. Tidak ada bacaan khusus diantara takbir-takbir tersebut. Adapun khutbah ied dilaksanakan setelah shalat, dan tidak ada duduk yang memisahkan dua khutbah.

Sunnah-sunnah dan hal lain berkaitan dengan iedul fithri

Terdapat beberapa amalan sunnah yang dianjurkan untuk dikerjakan pada hari iedul fithri, diantaranya:

1. Mandi sebelum shalat ied,

Sesuai dengan riwayat dari Malik dari Nafi’, ia berkata,

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

“ ’Abdullah bin ‘Umar dahulu mandi pada hari Idul Fithri sebelum pergi ke lapangan shalat ‘ied” (Shahih, diriwayatkan oleh Malik dalam Al Muwaththa` dan Asy Syafi’i dari jalannya dalam Al Umm)

 

2. Berhias, memakai wangi-wangian untuk laki-laki, dan bersiwak.

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda, “….pakailah minyak wangi dan bersiwaklah“.

Akan tetapi memakai minyak wangi tidak disunnahkan bagi wanita.

 

3. Memakai pakaian yang terbaik ketika berangkat menuju shalat ied

 

4. Makan terlebih dahulu sebelum shalat.

Sebelum berangkat ke lapangan untuk shalat pada hari ‘Ied, dianjurkan agar makan terlebih dulu. Dan sebaiknya memakan kurma, seperti diriwayatkan hadits Anas bin Malik, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ

Rasulullah tidak berangkat shalat pada hari ‘Ied, hingga beliau makan beberapa buah kurma” (HR. Bukhari)

 

5. Berangkat menuju lapangan/tempat shalat dengan berjalan dan tidak tergesa-gesa.

Telah disebutkan riwayat dari Sa’id bin Al Musayyib, Sunnah ‘iedul Fithri ada tiga : “Berjalan menuju lapangan (tempat shalat), makan sebelum berangkat, dan mandi.”

 

6. Melewati jalan berbeda ketika pulang dari tempat shalat

Ketika kembali dari shalat, disunnahkan mengambil jalan lain, selain jalan yang dilalui ketika berangkat. Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir, ia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Bahwasanya Rasulullah pada hari ‘Ied mengambil jalan lain, selain jalan yang dilalui sewaktu berangkat.” (HR. Bukhari)

 

7. Bertakbir semenjak ba’da shubuh sampai selesainya shalat ied

 

8. Mengajak wanita dan anak-anak ke tempat pelaksanaan shalat ied.

Rasulullah telah memerintahkan para wanita untuk keluar menghadiri shalat ‘Ied. Ummu ‘Athiyyah berkata,

أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ الحُيَّضَ يَوْمَ العِيدَيْنِ، وَذَوَاتِ الخُدُورِ فَيَشْهَدْنَ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ، وَدَعْوَتَهُمْ وَيَعْتَزِلُ الحُيَّضُ عَنْ مُصَلَّاهُنَّ

Kami diperintahkan yakni oleh Nabi – agar membawa serta para wanita yang haid dan gadis-gadis yang berada dalam pingitan pada hari ‘Ied. Sehingga mereka bisa menyaksikan jama’ah kaum muslimin dan do’a mereka. Dan wanita yang sedang haidh menjauhi tempat shalat. ” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

9. Diperbolehkan Memberikan ucapan selamat kepada saudara muslim, yakni dengan ucapan “Taqobbalallāhu minnaa wa minkum“. Sedangkan ucapan “minal ‘aidin wal faidzin” tidak ada riwayatnya dari Nabi Muhammad[1]. Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabi’in , seperti Abu Umamah Al Bahili dan lainnya. Mereka mengucapkan : Taqabbalallāhu minnaa wa minkum. (Artinya, semoga Allah menerima amalan kita semua).

 

Hal-hal keliru yang sering dilakukan pada iedul fithri

1. Mengkhususkan ziarah kubur pada hari ied

Pada asalanya ziarah kubur adalah amalan yang mulia, akan tetapi mengkhususkannya pada hari iedul fithri merupakan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi dan sahabat-sahabatnya berziarah kapan saja ketika butuh, dan tidak mengkhususkannya pada hari iedul fithri.

2. Mengkhususkan bermaaf-maafan pada hari ied

Sebagaimana ziarah, bermaaf-maafan adalah amalan yang sangat mulia. Akan tetapi bermaaf-maafan tidaklah mesti dikhususkan pada saat hari raya ‘Idul Fithri. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya tidak pernah mengkhususkan bermaaf-maafan saat sebelum dan sesudah puasa.

3. Bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom

Ini adalah kesalahan yang sangat sering kita dapati pada hari iedul fithri. Ketika bertemu muslimin lainnya, sebagian orang sebegitu mudahnya bersentuhan, bersalaman, cipika-cipiki dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Padahal ini adalah dosa besar yang semestinya seorang muslim menjauhinya. Rasulullah bersabda,

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

Sungguh ditancapkannya kepala seseorang dengan jarum besi, itu masih lebih baik daripada dia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.”(Hadits shahih, HR. Thabrani[2])

 

4. Berlebih-lebihan dalam merayakan iedul fithri

Hari iedul fithri merupakan hari makan-makan dan bergembira, demikian Islam memberi kelonggaran. Akan tetapi seseorang dilarang berlebihan dalam hal tersebut, karena Islam memerintahkan untuk membelanjakan harta pada hal yang baik dan tidak membuang-buangnya (tabdzir). Diantara bentuk tabdzir adalah membeli petasan, kembang api, atau yang semisalnya.

Penutup

Demikian kiranya beberapa hal yang sepatutnya kita ketahui dalam rangka menyongsong hari raya kita; iedul fithri. Semoga pada iedul fithri tahun ini dan seterusnya kita dapat mendulang banyak pahala dikala merayakannya. Wallahu a’lam.

و صلى الله و سلم على محمد و الحمد لله رب العالمين

 

Maraaji’ :

1. Ahkamul ‘Iedain oleh Syeikh Ali Hasan Al-Halabi

2. Sholatul ‘Iedain oleh Syeikh Saad Ali bin Wahf Al-Qahtani

3. Sholatul ‘Iedain oleh Kementrian Wakaf Arab Saudi

4. Beberapa situs di internet, diantaranya:

http://muslimah.or.id/fikih/pernak-pernik-seputar-hari-raya.html

http://kaahil.wordpress.com/2010/09/06/inilah-6-contoh-kesalahan-di-hari-raya-iedul-fithriadha-mengkhususkan-ziarah-kubur-berjabat-tangan-dengan-bukan-muhrim-cukur-jenggot-balapan-kendaraan-berdzikir-dengan-tabuhan-dan-suara-musik/

http://www.salafyoon.net/fiqih/mendulang-sunnah-nabi-pada-hari-raya-iedul-fithri.html

 

Ditulis oleh :

Wildan Salsabila

Santri Ma’had Al ‘Ilmi tahun ajaran 1434/1435

 

[1] Begitu juga ucapan tahni-ah atau selamat hari raya yaitu : Taqabbalallāhu minnaa wa minkum tidak ada riwayat yang marfu’ sampai Nabi. Hanya saja terdapat atsar bahwa para shahabat biasa mengucapkan Taqabbalallāhu minnaa wa minkum sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni, Muhammad bin Ziyad berkata, “Aku pernah bersama dengan Abu Umamah Al Bahiliy dan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain. Jika para sahabat selesai shalat ‘ied, mereka saling mengucapkan : Taqabbalallāhu minnaa wa minkum” (Al Mughni, 2/259. Dinukil dari Ahkamul ‘Iedain, hal. 62)

Sehingga, yang lebih baik adalah meneladani para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan generasi terbaik umat Islam. Namun sebagian ulama bersikap longgar dalam masalah ini karena ini berkaitan dengan adat-istiadat sehingga sah-sah saja jika mau menggunakan do’a selain Taqabbalallāhu minnaa wa minkum selama tidak ada yang bermasalah dalam lafazh do’anya. Wallahu a’lam– ed

[2] Al Mundziri mengatakan, “Perawinya tsiqah, termasuk perawi kitab Shahih” (lihat Shahih At Targhib wat Tarhib, 2/191)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *