Mahad Al 'Ilmi Yogyakarta

Tauhid, Prioritas Utama Dalam Dakwah

Tauhid, misi utama para rasul

Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung kepada umat manusia adalah perintah bertauhid dan menjauhi syirik. Perintah inilah yang menjadi misi utama pengutusan para rasul ‘alahimus salam. Tidak ada seorang rasul pun yang tidak menjadikan tauhid sebagai inti dakwahnya. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.” (QS. Al Anbiya ’ : 25)

 

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah semata, dan jauhilah Thaghut” (QS. An Nahl : 36)

 

Al Quthubi rahimahullah dalam kitab tafsirnya menjelaskan ayat di atas yakni pada kalimat “Sembahlah Allah” yakni : Sembahlah Allah dan tauhidkanlah Allah. Sedangkan pada kalimat “dan jauhilah Thaghut “ yakni : tinggalkanlah segala sesembahan selain Allah seperti syaitan, peramal, dan patung, serta tinggalkan semua yang menyeru kepada kesesatan. (Al Jami’ li Ahkam Al Qur’an)

Maka, kemurnian tauhid dari segala macam bentuk keyirikan dan kekufuran adalah hal utama yang harus dicapai seorang hamba sebagaimana hal tersebut adalah maksud penciptaan manusia. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56)

 

Keutamaan tauhid dan mendakwahkannya

Jika telah diketahui bahwa hal yang paling utama bagi seorang hamba di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kemurnian tauhid kepada-Nya, maka tentu keutamaan tauhid adalah keutamaan yang paling besar. Murninya tauhid dalam beribadah kepada Allah tanpa sedikitpun ternodai oleh syirik merupakan sebab keselamatan dari kekalnya adzab neraka. Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ’anhu,

فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hambanya adalah hendaklah mereka beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat kesyirikan sedikit pun, dan hak hamba yang akan dipenuhi oleh Allah, adalah Allah tidak akan mengadzab orang-orang yang tidak berbuat kesyirikan” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Selain itu, hidayah dan keamanan pada hari kiamat hanya akan Allah berikan kepada hamba yang senantiasa memurnikan keikhlasan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al An’am :82)

 

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat di atas, “ Mereka itulah orang-orang yang mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah semata serta tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. Mereka itulah yang mendapat keamanan pada hari kiamat dan yang mendapat petunjuk di dunia dan akhirat”.(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim).

Oleh sebab itu, mendakwahkan tauhid adalah suatu keutamaan dakwah yang sangat besar, yakni keutamaan menyeru kepada perkara terbesar dan paling utama bagi seorang hamba, perkara yang dengannya seorang hamba dapat memasuki surga Allah dan menghindarkannya dari kekekalan dalam api neraka. Tidak ada dakwah yang lebih utama dibandingkan dakwah tauhid sebagaimana tidak ada perkara yang paling dibutuhkan seorang hamba selain perkara tauhid. Sebagaimana perkataan Syaikh Abdul Malik Ramdhani hafizhahullah, “Oleh sebab itu para da’i yang menyerukan tauhid adalah da’i-da’i yang paling utama dan paling mulia. Sebab dakwah kepada tauhid merupakan dakwah kepada derajat keimanan yang tertinggi.” (Sittu Durar min Ushul Ahlil Atsar, hal. 16).

 

Lunturnya tauhid dan menyebarnya syirik

Kebutuhan akan dakwah tauhid sangat ditekankan, terlebih pada zaman sekarang saat fenomena-fenomena kesyirikan dan kekufuran menjamur di masyarakat. Berbagai ritual, adat, maupun kebiasaan masyarakat tidak sedikit yang terdapat unsur kesyirikan dan kekufuran di dalamnya, seperti menyembah pohon, menyembah kuburan, memberi sesajen kepada jin, sihir, dan berbagai perkara lainnya. Fenomena ini telah dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

لَا يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللَّاتُ وَالْعُزَّى

Tidak akan hilang malam dan siang[1] sehingga Lata dan Al ’Uzza diibadahi’ ” (HR. Muslim)

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa fenomena syirik akan kembali muncul sebelum hari kiamat tiba. Inilah yang menjadi bukti bahwa kesyirikan akan tetap ada hingga akhir zaman.

Kesyirikan pada zaman sekarang bahkan lebih parah dibandingkan kesyirikannya pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana pernyataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, “ Sesungguhnya kaum musyrikin zaman kita lebih parah kesyirikannya dibandingkan kaum musyrikin terdahulu. Kaum musyrikin terdahulu hanya menyekutukan Allah pada saat keadaan lapang, namun mereka memurnikan ibadah hanya kepada Allah ketika keadaan sempit. Sedangkan kaum musyrikin zaman kita mereka menyekutukan Allah baik dalam keadaan lapang maupun sempit.”, kemudian beliau menukil ayat,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)” (QS.Al ‘Ankabut : 65).

 

(Al Qowaid Al Arba’).

 

Dakwah Tauhid, prioritas dakwah kapanpun dan dimanapun

Dalam rangka menyelamatkan aqidah umat Islam zaman modern, maka dakwah tauhid mau tidak mau harus menjadi prioritas dakwah kaum muslimin, yaitu dakwah kepada perkara pertama yang Allah perintahkan kepada umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia”  (QS. Al An’am : 151)

 

Dalam ayat tersebut Allah Ta’ala melarang berbagai hal yang diharamkan-Nya, dan hal pertama yang Allah haramkan adalah berbuat syirik dalam beribadah kepada-Nya. Hal ini menunjukkan besarnya dosa syirik dibandingkan dosa lainnya.

Dakwah tauhid adalah dakwah utama para rasul, sudah selayaknya bagi kita untuk berjalan di atas jalannya para rasul, mendakwahkan tauhid kapanpun dan dimanapun. Tidak ada kata istirahat dalam mendakwahkan tauhid karena kesyirikan tidak akan pernah hilang sampai hari kiamat tegak. Tidak pula kita mengutamakan dakwah lain di atas dakwah ini dikarenakan tidak ada perkara yang paling dibutuhkan manusia untuk kehidupan di dunia maupun di akhirat selain mentauhidkan Allah Ta’ala. Di atas tauhid inilah bangunan Islam kokoh berdiri dan di atasnya pula jalan keselamatan dunia dan akhirat terbentang.

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘aalamin.

 

Ditulis oleh :

Adib Priatama

Santri Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta tahun ajaran 1434/1435

 

 

 

 

 

[1] Yakni : Dunia tidak akan berakhir dan kiamat tidak akan datang (syarh Muhammad Fu-ad ‘Abdul Baaqiy) – ed

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *