Mahad Al 'Ilmi Yogyakarta

Takdir Tidaklah Kejam

Beberapa waktu yang lampau, terdengar oleh telinga kita banyak manusia berkata, “Takdir memang kejam.” Pernyataan ini terlontar dari mereka yang tidak ridha terhadap takdir buruk yang menimpanya. Benarkah pernyataan ini?

Pengertian Takdir

Secara bahasa, al qadar (takdir) berarti akhir dan batas dari sesuatu. Secara istilah, al qadar adalah keterkaitan ilmu dan kehendak Allah Ta’ala yang terdahulu terhadap semua makhluk di alam semesta sebelum Dia menciptakannya. Maka, tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam ini melainkan Allah Ta’ala telah mengetahui, menghendaki, dan menetapkannya, sesuai dengan kandungan hikmah-Nya yang Maha Sempurna.

 Wajib Beriman kepada Takdir

Beriman kepada takdir berarti membenarkan sepenuh hati bahwa setiap kebaikan dan keburukan terjadi atas ketetapan dan takdir Allah, tidak ada satu pun yang terjadi melainkan atas kehendak-Nya, dan tidak ada satu makhluk pun di alam semesta yang keluar dari ketetapan dan pengaturan-Nya. Sehingga apa yang ditakdirkan pasti terjadi, apa yang tidak ditakdirkan tidak akan terjadi, dan apa yang tidak terjadi jika seandainya ditakdirkan terjadi, maka Dia mengetahui bagaimana kejadiannya.

Wajib bagi seorang muslim untuk beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan al qadar (takdir).” (QS. Al Qamar : 49)

 

Allah Ta’ala juga berfirman berfirman,

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al Hadid: 22)

 

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai iman,

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Yaitu engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir, yang baik dan yang buruk.”(HR. Muslim)

 

Sikap Seorang Muslim terhadap Takdir

Pada umumnya, seseorang lebih mudah merasa ridha terhadap takdir baik yang Allah tetapkan atasnya. Namun, ketika sesuatu yang tidak menyenangkan menimpanya, dirinya mungkin merasa bahwa takdir Allah itu kejam. Sesungguhnya, takdir Allah tidaklah kejam. Seorang muslim tidak memiliki pilihan kecuali ridha dengan apa yang Allah tetapkan untuknya, meskipun dirinya merasa bahwa hal tersebut tidaklah sesuai dengan keinginannya.

Hal ini dapat diwujudkan dengan meyakini bahwa setiap takdir, yang baik maupun yang buruk, merupakan yang terbaik yang Allah tetapkan untuk hamba-hamba-Nya. Dan seorang hamba sepatutnya berprasangka baik bahwa di setiap takdir,terdapat hikmah di baliknya.

Seorang muslim juga harus bersabar atas takdir yang telah Allah tetapkan baginya. Sesungguhnya dengan kesabaran, seseorang akan mendapat pahala besar atas segala sesuatu yang menimpanya. Juga, tidak diperbolehkan baginya untuk berandai-andai berbuat sesuatu yang dapat menghalangi terjadinya suatu hal ketika hal tersebut sudah terjadi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Apabila engkau tertimpa sesuatu, maka janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku berbuat begini tentu hasilnya begini dan begini,’ akan tetapi ucapkanlah ‘Qadarullāhi wa maa syaa-a faala’ (Allah telah menakdirkan apa yang Ia kehendaki Ia laksanakan), karena sesungguhnya ‘andaikata’ membuka pintu setan.” (HR. Muslim)

 

Hikmah di Balik Takdir

Seringkali seseorang meratapi sesuatu yang luput darinya atau musibah yang menimpanya, namun di kemudian hari dirinya mendapati bahwa hal tersebut justru mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Inilah hikmah Allah di balik setiap takdir yang terjadi.Dengan meyakini hal ini, seorang muslim akan memperoleh ketenangan batin, menghilangkan kesedihan dalam dirinya, dan tegar dalam menghadapi realita kehidupan yang ia anggap serba sulit. Dengan memahami hal ini pula, akan tumbuh sikap sabar dalam dirinya terhadap cobaan dan menjauhkannya dari perbuatan yang tercela. Seseorang juga akan terpacu untuk berusaha dengan lebih baik karena meyakini bahwa apa pun hasil akhir yang diperolehnya, ada hikmah di baliknya.

 

Ditulis oleh :

Ummu Fathimah

Santri Ma’had Al ‘Ilmi tahun ajaran 1434/1435

 

Maraaji’ :

Al Qur’an dan terjemahannya

Aqidah Muslim, Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsudin, Penerbit Al Manar

Artikel “Memahami Takdir Allâh Subhanahu wa Ta’ala Menurut Perspektif Ahlus Sunnah Wal Jama’ah”, Ustadz Abdullah bin Taslim, dari situs www.almanhaj.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *