Mahad Al 'Ilmi Yogyakarta

Hakikat Mencintai Rasul

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya,serta para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.

Saudaraku, sebagai umat muslim, kita semua pasti mencintai Allah dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cinta kepada Allah lebih dari segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan ciri orang-orang yang sempurna imannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Sedangkan orang-orang yang beriman sangat besar kecintaan mereka kepada Allah” (QS. Al Baqarah : 165)

Lebih dari itu, mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari kecintaan kepada siapapun selain keduanya merupakan sebab seseorang mendapatkan manisnya iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga sifat, barangsiapa yang memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman (kesempurnaan iman): menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada (siapapun) selain keduanya, mencintai orang lain semata-mata karena Allah, dan merasa benci (enggan) untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah sebagaimana enggan untuk dilemparkan ke dalam api” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ittiba’ (Mengikuti) Rasulullah, Realisasi Kecintaan kepada Allah

Saudaraku, mencintai Allah merupakan ciri dari orang-orang mukmin. Akan tetapi, kecintaan tersebut bukanlah sekedar yel-yel semata, yang sekedar diucapkan lisan- lisan kita. Kecintaan kepada Allah harus direalisasikan dalam kehidupan kita agar kita tidak menjadi orang yang hanya berpura-pura mencintai Allah sebagaimana kaum munafikin terdahulu. Tolak ukur kecintaan seseorang kepada Allah adalah bagaimana ittiba’ orang tersebut kepada Rasulullah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Ali Imran: 31)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy –rahimahullah- dalam tafsirnya mengatakan, “Ayat ini merupakan tolak ukur cinta seseorang kepada Allah dengan sebenar-benarnya cinta atau hanya pura-pura mengaku cinta. Tanda cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah ittiba’ (mengikuti) Rasulullah, yang Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjadikan sikap ini (ittiba’) dan segala apa yang diserukan sebagai jalan untuk mendapatkan cinta dan ridha Allah Subhanahu wa ta’ala. Dan tidak akan didapati kecintaan dari Allah Subhanahu wa ta’ala, serta ridha dan pahala-Nya, melainkan dengan cara membenarkan apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang ada di dalam Al Qur’an dan As Sunnah, dengan cara melaksanakan apa yang dikandung keduanya dan menjauhi apa yang dilarangnya.

Maka barangsiapa melakukan hal ini, sungguh ia telah dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala, dibalas sebagaimana balasan terhadap kekasih Allah Subhanahu wa ta’ala , diampuni dosanya, dan ditutupi segala aibnya. Maka (ayat ini) seakan-akan (menjelaskan) bagaimana hakekat mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bagaimana sifatnya.” (Lihat Taisirul Karimir Rahman fii Tafsiri Kalamil Mannan, karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’dy –rahimahullah- )

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ayat yang mulia ini adalah hakim (yang mengadili) bagi setiap orang yang mengaku cinta pada Allah Subhanahu wa ta’ala namun dia tidak berada di jalan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuannya hingga dia mengikuti ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/467)

Oleh karena itu, ketika kita mengeluarkan pernyataan tersebut sementara kita jauh dari ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka kita termasuk orang yang berdusta atas pernyataan kita. Al Hasan Al Bashri dan ulama salaf lainnya rahimahumullah berkata, “Sekelompok orang telah menyangka bahwasanya mereka mencintai Allah Subhanahu wa ta’ala. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala menguji mereka dengan ayat ini (yang tersebut di atas).” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 1/467)

Maka saudaraku, dari sinilah hendaknya kita melihat kembali kepada apa yang telah kita lakukan! Apakah kita telah mengikuti Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebenar-benarnya ataukah belum?

Kewajiban Mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Menjauhi Bid’ah

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri tauladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharapkan Allah dan hari akhir dan bagi orang yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Allah Subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu sekalian dengan tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah. Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika kalian dalam keadaan saling bermusuhan lalu Dia mempersatukan hati-hati kalian, sehingga akhirnya kalian menjadi bersaudara, dan (ingatlah) ketika kalian di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan kepada kalian ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya mudah-mudahan kalian mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran : 103)

Dan firman Allah,

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

 

“Kalau kalian mentaatinya (Nabi Muhammad), niscaya kalian akan mendapat petunjuk.” (QS. An Nur : 54)

 

Kemudian firman-Nya,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“Dan apa yang dibawa oleh Rasul itu kepada kalian, maka ambillah dia, dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidaklah beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa` : 65)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Saya wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan mentaati (penguasa) walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak ethiopia. Dan sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang (masih) hidup sepeninggalku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang dengan Sunnah (jalan atau cara hidup)-ku dan sunnah para Al-Khulafa Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk, dan gigitlah dia dengan geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara baru yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap kebid’ahan adalah sesat.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan lainnya, dari Al ’Irbadh bin Sariyah)

 

Dan juga sabda beliau,

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Kemudian dari pada itu. Maka sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitab Allah. Dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap kebid’ahan adalah sesat.” (HR. Muslim dari Jabir)

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu menyebutkan, “Ikutilah dan janganlah berbuat bid’ah. Sungguh kamu sekalian telah diberi kecukupan (dalam agama kalian)” (Lihat kitab Al Ibanah 1/327-328, Al Lalikai, 1/86)

 

‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ’anhuma mengatakan, “Semua bid’ah itu adalah sesat meskipun orang menganggapnya baik.” (Lihat kitab Al Ibanah 1/339, Al Lalikai 1/92)

 

Al Imam Malik bin Anas rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang berbuat satu kebid’ahan di dalam Islam dan dia menganggapnya baik, berarti dia telah menuduh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah. Karena Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyatakan:

 

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian. Dan Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (QS. Al Maidah : 3)

Maka apapun yang ketika itu (di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya) bukanlah sebagai ajaran Islam, maka pada hari ini juga bukan sebagai ajaran Islam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan kami maka dia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Imam Muslim, beliau bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada perintah dariku amalan tersebut tertolak”

Saudaraku, dalil-dalil diatas menunjukkan wajibnya berpegang teguh kepada sunnah dalam setiap urusan kita dan menjauhi segala perkara yang diada-adakan dalam urusan agama. Tidak mungkin seorang bisa mengikuti sunnah dengan benar tanpa dia menjauhi segala bid’ah.

Semoga Allah menunjuki dan meneguhkan kita di atas hidayah-Nya sehingga kita menjadi orang-orang yang termasuk mencintai Rasul-Nya secara hakiki. Semoga kita juga termasuk orang yang berhak mendapatkan uluran minuman air telaga dari tangan beliau yang mulia dan tidak termasuk orang yang dikatakan kepadanya ketika itu,

سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِي

“Celaka, celaka bagi orang-orang yang merobah (agamaku) setelahku”. (HR. Muslim)

Ditulis oleh :

Bagas Prasetya Fazri

Santri Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta tahun ajaran 1434/1435

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *