Mahad Al 'Ilmi Yogyakarta

Meraih Syafa’at di Hari Kiamat (2)

Fenomena Praktek Permohonan Syafa’at di Masyarakat

Suatu hal yang sangat mengherankan dan mencengangkan pikiran kita bahwa fenomena yang terjadi di masyarakat masih banyak diantara kaum muslimin yang memohon syafa’at bukan kepada pemiliknya. Akan tetapi mereka justru memohon syafa’at kepada sesama makhluk yang mereka yakini bisa memberi syafa’at. Bukankan sudah kita ketahui bersama bahwa memohon kepada selain Allah akan sesuatu yang hanya Allah saja yang memiliki dan mampu mengabulkan itu adalah perbuatan kesyirikan yang besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama Islam?

Sebagai contoh riil bahwa saat ini masih banyak diantara kaum muslimin yang memohon syafa’at kepada selain Allah yang justru menjatuhkan mereka ke lembah kesyirikan sebagai mana yang terjadi dan pernah didengar oleh penulis di kampung penulis yang mayoritas adalah kaum muslimin, mereka masih memohon syafa’at kepada selain Allah. Diantaranya mereka berdoa,

“ Ya Rasulallah isyfa’ lanaa…”

Ya Rasulullah, berilah syafa’at kepada kami

Atau ada yang berdoa,

Yaa Syaikh ‘Abdal Qadiir Al Jailanii Aghitsna..Aghitsna..Aghitsna…

Wahai Syaikh Abdul Qadir Al Jailani tolonglah kami..tolonglah kami..tolonglah kami..

Doa diatas tersebut menunjukkan do’a kepada selain Allah, suatu perbuatan yang tidak selayaknya dilakukan oleh orang yang bertauhid kepada Allah. Karena memohon sesuatu kepada makhluk yang tidak mempunyai hak atas sesuatu yang diminta. Yang mana hanya Allah-lah yang mempunyai hak untuk di mintai syafa’at, sedangkan mereka tidaklah mampu memberikan syafa’at kecuali setelah mendapat izin dari Allah. Sehingga doa semacam diatas justru menjatuhkan kepada perbuatan syirik akbar/syirik besar, yang bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam. Waliyadzubillah.

Mereka beralasan bahwa mereka tidaklah layak untuk berdoa langsung kepada Allah karena banyaknya dosa yang telah mereka lakukan. Sehingga mereka mencari wasilah dengan bertawasul kepada para nabi dan orang orang shalih dengan harapan mereka memberikan syafa’at dihadapan Allah sehingga Allah berkenan mengabulkan doa-doa mereka (pembahasan tentang tawassul akan datang insya Allah). Akan tetapi berdoa dengan disertai dengan tawassul dengan para nabi dan orang-orang shalih yang sudah wafat tidaklah dicontohkan oleh Nabi dan tidaklah pernah dilakukan para pendahulu kita salafuna shalih.

Seharusnya mereka memohon syafa’at hanya kepada Allah. Sebagai contoh mereka seharusnya berdoa dengan mengucapkan :

”Allahumma laa tahrimnaa syafa’ata Muhammadin shallallahu alaihi wa sallama”

“Yaa Allah, janganlah Engkau mengharamkan syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam atas kami”

Atau,

Allahumma syaffi’hu fiyya”

“Yaa Allah berilah kepada beliau (Nabi Muhammad) hak untuk memberi syafa’at kepadaku”

Atau doa-doa yang semisalnya.

Kita tidaklah mengingkari bahwa nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa memberikan syafa’at. Begitu juga para malaikat serta para nabi yang lain dan para orang shalih, Akan tetapi mereka tidaklah bisa memberikan syafa’at kecuali setelah Allah memberikan izin kepada mereka. Begitu juga Allah tidaklah memberikan syafa’at kecuali kepada orang-orang yang Allah ridhai.

Syarat-Syarat Syafa’at

Syafa’at memiliki dua syarat yang harus terpenuhi, jika salah satunya tidak terpenuhi maka tidak akan terwujud syafa’at, yaitu

Pertama: Izin Allah kepada pemberi syafa’at

Hal ini berdasarkan firman Allah:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya” (QS. Al Baqarah : 255)

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ

“Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu” (QS. Saba‘ : 23)

Kedua: Ridha Allah terhadap orang yang memberi syafa’at dan yang diberi syafa’at, di mana dia termasuk ahli tauhid yang melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Hal ini berdasarkan firman Allah,

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS. Thaha : 109)

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah” (QS. Al Anbiya‘ : 28)

Jadi, syafa’at kelak pada hari kiamat tidak terwujud kecuali bagi siapa yang diizinkan oleh Allah dan diridhai-Nya. Sampai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun, beliau tidak bisa memberikan syafa’at begitu saja kecuali setelah diizinkan oleh Allah. Sebagaimana dalam hadits yang panjang tentang syafa’at, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبِّي، فَيُؤْذَنُ لِي، وَيُلْهِمُنِي مَحَامِدَ أَحْمَدُهُ بِهَا

“Maka aku meminta izin kepada Rabbku, lalu diizinkan bagiku, dan Allah memberikan ilham kepadaku berupa pujian-pujian kepada-Nya sehingga aku memuji Allah dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan Allah tidak ridha kecuali kepada ahli tauhid, sebagaimana dalam hadits,

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ، مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ، أَوْ نَفْسِهِ

“Orang yang paling berbahagia memperoleh syafa’atku pada hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ ikhlas dari lubuk hatinya atau jiwanya” (HR. Bukhari)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat rahasia pentingnya tauhid, sebab syafa’at hanya diperoleh dengan pemurnian tauhid, siapa yang sempurna tauhidnya, maka berhak mendapat syafa’at, bukan dengan syirik seperti yang dilakukan mayoritas orang”

Bersambung, insya Allah…

Ditulis oleh :

Syukran Machmudi

Santri Ma’had Al ‘Ilmi tahun ajaran 1434/1435

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *