Mahad Al 'Ilmi Yogyakarta

FAQ

1. Apakah Ma’had Al ‘Ilmi menyediakan asrama untuk santrinya?

Banyak pertanyaan yang datang seputar masalah ini. Hal ini dikarenakan kata-kata “ma’had” di telinga kita identik dengan pondok pesantren yang menyediakan asrama.

Adapun Ma’had Al ‘Ilmi adalah tempat belajar yang tidak menyediakan asrama seperti ponpes pada umumnya. Artinya, santri tetap tinggal di rumah atau kostnya masing-masing, lalu datang ke tempat kajian rutin atau tempat setoran rutin yang sudah ditentukan.

2. Apakah non-mahasiswa boleh ikut?

Non-mahasiswa boleh ikut. Hanya saja, karena mayoritas pesertanya mahasiswa, jadilah Ma’had Al ‘Ilmi lebih dikenal dengan sebutan “Pesantren Mahasiswa”. Hal ini sesuai dengan kaidah, “Al hukmu lil ghaalib”, kesimpulan hukum sesuatu diambil dari unsur yang paling dominan dalam sesuatu tersebut.

3. Apakah saya bisa ikut Ma’had Al ‘Ilmi padahal saya belum bisa bahasa arab?

Jika belum bisa sama sekali, maka lebih disarankan untuk mengikuti kajian umum terlebih dahulu sambil belajar bahasa arab, bisa di Ma’had Umar bin Khattab Yogyakarta atau tempat lainnya.

Tapi jika yang dimaksud belum lancar membaca kitab namun sudah memahami dasar-dasar kaidah nahwu-sharaf, maka silakan mencoba ikut. Di dalam KBM Ma’had Al ‘Ilmi juga ada materi untuk meningkatkan kemampuan bahasa arab santri.

4. Apakah kajian rutin Ma’had Al ‘Ilmi boleh diikuti non-santri?

Kajian rutin Ma’had Al ‘Ilmi terbuka juga untuk umum.

5. Bagaimana jika ternyata ada jadwal kajian rutin Ma’had Al ‘Ilmi yang bertabrakan dengan jadwal kuliah sore saya?

Tidak mengapa izin jika ternyata ada jadwal kajian rutin Ma’had Al ‘Ilmi yang bertabrakan dengan jadwal kuliah sore selama satu semester tersebut atau ada jadwal praktikum selama beberapa pekan. Tapi harus menyampaikan surat izin dan tetap mengikuti pelajaran yang ia tinggalkan melalui rekaman yang disediakan pengurus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *